Mengapa Suasana Ramadhan Terasa Tidak Seasyik Saat Masa Kecil?

Menunggu Buka Puasa
Sumber :
  • freepik

Olret – Ada masa ketika Ramadhan terasa sangat dinanti. Hari-harinya dipenuhi rasa antusias, mulai dari bangun sahur yang penuh drama, menunggu waktu berbuka sambil melihat jam berkali-kali, sampai suara bedug yang terdengar begitu meriah. Semua terasa hangat, sederhana, tetapi membekas kuat di ingatan.

7 Kebiasaan yang Bikin GERD Kambuh Saat Puasa Ramadhan

Ketika sudah dewasa, banyak orang mulai merasa suasana itu tidak lagi sama. Ramadhan tetap datang setiap tahun, tradisinya masih dijalankan, tetapi rasanya tidak lagi seistimewa dulu. Hal ini bukan karena Ramadhannya berubah, melainkan karena cara kita menjalani hidup sudah berbeda.

Ramadhan Dulu Dipenuhi Kejutan Kecil

Panduan Pulang Kampung Saat Tahun Baru Imlek

Saat masih anak-anak, hampir semua hal terasa baru. Belajar menahan lapar menjadi pengalaman yang membanggakan. Diberi kesempatan ikut tarawih sudah terasa seperti petualangan malam. Bahkan kegiatan sederhana seperti membeli kolak di pinggir jalan bisa menjadi momen yang sangat menyenangkan.

Otak anak-anak cenderung lebih mudah merasa kagum. Hal-hal kecil terasa besar, dan pengalaman baru meninggalkan kesan yang kuat. Ketika dewasa, banyak hal sudah menjadi pengalaman berulang sehingga tidak lagi memunculkan rasa takjub yang sama.

5 Tipe MBTI yang Paling Suka Kerja Dikejar Deadline, Makin Tertekan Justru Makin Fokus

Dari Menikmati Menjadi Menjalani

Masa kecil membuat kita hanya perlu mengikuti alur. Semua sudah disiapkan oleh orang tua. Menu berbuka tersedia, pakaian Lebaran dipilihkan, rumah terasa ramai tanpa kita harus memikirkan apa pun.

Saat dewasa, posisi itu berubah. Kita justru menjadi pihak yang mempersiapkan. Memikirkan pekerjaan yang tetap berjalan, mengatur waktu agar tetap bisa beribadah, hingga memastikan kebutuhan keluarga terpenuhi. Fokus bergeser dari menikmati menjadi menjalani tanggung jawab.

Kesibukan Sehari-hari

Dulu, menunggu waktu maghrib terasa lama karena kita benar-benar menunggu. Sekarang, waktu terasa melaju cepat karena perhatian terbagi ke banyak hal. Pikiran masih memikirkan pekerjaan, notifikasi ponsel terus berdatangan, dan hari-hari terasa seperti rangkaian tugas yang harus diselesaikan.

Kesibukan membuat kita jarang benar-benar hadir dalam momen. Padahal, kehangatan Ramadhan justru muncul ketika seseorang memberi ruang untuk merasakannya secara utuh.

Imajinasi Anak-Anak Membuat Segalanya Lebih Hidup

Anak-anak memiliki dunia imajinasi yang aktif. Lampu hias terlihat indah, suara bedug terasa megah, dan suasana masjid menjadi sesuatu yang menyenangkan. Ketika dewasa, cara pandang menjadi lebih logis dan praktis sehingga nuansa emosional itu perlahan memudar.

Bukan karena suasananya hilang, melainkan karena kita jarang memberi waktu untuk merasakannya kembali.

Rasa Rindu Itu Sebenarnya Rindu Kesederhanaan

Banyak orang mengira mereka merindukan Ramadhan masa lalu. Yang sebenarnya dirindukan adalah hidup yang lebih pelan, lebih ringan, dan lebih fokus pada kebersamaan. Dulu, kebahagiaan muncul dari hal-hal sederhana. Sekarang, tanpa sadar kita membuat hidup menjadi jauh lebih kompleks.

Menghidupkan Kembali Makna Ramadhan

Suasana yang hangat masih bisa diciptakan kembali dengan cara yang sederhana. Mengurangi distraksi saat berbuka, meluangkan waktu berjalan santai menjelang maghrib, atau memperbanyak kebersamaan tanpa sibuk dengan layar bisa menghadirkan kembali rasa yang dulu terasa alami.

Ramadhan tidak kehilangan keistimewaannya. Kita hanya perlu melambat sedikit, memberi ruang untuk menikmati, dan mengingat bahwa esensi bulan ini bukan soal seberapa sibuk kita menjalankannya, tetapi seberapa dalam kita merasakannya.

Ketika cara pandang berubah, suasana yang dulu terasa jauh bisa hadir kembali, mungkin tidak sama seperti masa kecil, tetapi dengan makna yang jauh lebih dalam.