Menemukan Surga di Ujung Sumatra: Harmoni Budaya dan Pesona Alam Kepulauan Mentawai
- youtube
Olret – Kepulauan Mentawai bukan sekadar gugusan pulau di Samudra Hindia; ia adalah rumah bagi salah satu budaya tertua di Indonesia yang masih lestari.
Dalam perjalanan "Kelana Bentala", kita diajak menyelami kedalaman hutan Siberut hingga kejernihan laut Sipora, sebuah harmoni antara manusia, alam, dan spiritualitas.
Jejak Arat Sabulungan: Di Mana Semua Agama Menjadi Satu
Perjalanan dimulai di pedalaman Siberut, tempat Arat Sabulungan—kepercayaan asli Mentawai yang memuliakan alam—masih berdenyut. Hal paling menyentuh dari narasi di sini adalah bagaimana masyarakat lokal memandang keberagaman. Seorang tetua Mentawai berbagi pandangan hidup yang luar biasa tentang toleransi:
"Walaupun banyak, walaupun sepuluh (agama), tapi tujuannya satu. Tuhan satu, cuma bahasanya beda. Ada bahasa Muslim, ada bahasa Katolik, ada bahasa Mentawai, tapi kita mendoa satu Tuhan."
Bagi mereka, perbedaan cara berdoa bukanlah penghalang untuk saling menolong. Keikhlasan ini terpancar saat mereka mengikuti perayaan satu sama lain dengan penuh hormat.
Menuju Sipora: Surga Tropis yang Tak Terjamah
Setelah seminggu tanpa sinyal di Siberut, perjalanan berlanjut ke Pulau Sipora, pusat pemerintahan Mentawai. Jika Siberut adalah tentang jiwa dan budaya, maka Sipora adalah tentang rupa alam yang memukau.
Salah satu destinasi yang mencuri perhatian adalah Putotogat, sebuah pulau kecil yang sempat viral di media sosial. Sering salah disebut sebagai "Pulau Kelapa Tiga", Putotogat menawarkan ketenangan yang absolut.
"Pemandangan pasir putih yang luas, air lautnya yang biru jernih, dan tiga pohon kelapa ikonik yang tumbuh di tengah perairan membuat Putotogat begitu menawan."
Di sini, aktivitas seperti Stand Up Paddle menjadi cara terbaik untuk menikmati perairan yang tenang, sementara semilir angin laut dan kiriman kelapa muda segar dari warga lokal melengkapi kemewahan alami tempat ini.
Mapaddegat dan Perpisahan yang Manis
Sebelum meninggalkan Mentawai, tim sempat singgah di Pantai Mapaddegat. Hanya berjarak 10 menit dari Tuapejat, pantai ini menyuguhkan kombinasi harmonis antara pasir putih dan barisan pohon kelapa yang memberikan nuansa tropis khas Indonesia.
Namun, setiap perjalanan selalu memiliki akhir. Perjalanan ditutup dengan pesan mendalam tentang esensi berkelana:
"Setiap pertemuan tak hanya memperkaya pengalaman, tetapi juga mengingatkan bahwa perpisahan adalah bagian tak terhindarkan dari kehidupan."
Penutup di Padang Glamping
Sebagai transisi kembali ke peradaban, tim menikmati ketenangan di Padang Glamping, Lubuk Minturun. Tersembunyi di balik hutan dan hanya bisa diakses dengan kendaraan 4x4, tempat ini menawarkan pengalaman tidur di samping aliran sungai yang jernih—sebuah penutup sempurna setelah petualangan panjang di Mentawai.
Mentawai mengajarkan kita bahwa kekayaan Indonesia bukan hanya terletak pada pantai-pantai cantiknya, melainkan pada keramahan orang-orangnya dan kebijakan lokal dalam menjaga hubungan dengan Sang Pencipta serta alam semesta.