5 Dampak Psikologis Terlalu Sering Meminta Maaf

Meminta maaf
Sumber :
  • freepik.com

5. Membatasi Potensi Diri

Harga Meroket, Pajak Mencekik: 6 Strategi Jitu Agar Rakyat Biasa Tetap Bertahan Hidup!

Kebiasaan meminta maaf berlebihan juga bisa membuat seseorang enggan mengambil risiko. Mereka takut membuat kesalahan dan akhirnya memilih untuk tidak mencoba.

Padahal, menurut teori self-efficacy dari Albert Bandura (1997), keyakinan pada kemampuan diri sangat penting untuk berkembang. Jika terus-menerus menganggap diri salah, kesempatan untuk maju bisa terhambat.

Rahasia Charlie Munger: Bagaimana "Berpikir Terbalik" Membantu Anda Keluar dari Pola Pikir Miskin

Cara Mengurangi Kebiasaan Meminta Maaf Berlebihan

Kenali pemicunya

Kaya Beneran vs. Pura-Pura Kaya: Apa Bedanya?

Coba sadari situasi apa saja yang membuat kamu refleks minta maaf.

Ganti dengan ucapan positif

Alih-alih berkata “Maaf sudah merepotkan”, coba ucapkan “Terima kasih sudah membantu.”

Bangun rasa percaya diri

Fokus pada kekuatan diri dan ingat bahwa tidak semua hal adalah kesalahanmu.

Latih komunikasi asertif

Belajar menyampaikan pendapat dengan jujur dan sopan tanpa harus merendahkan diri.

Meminta maaf adalah tanda kedewasaan, tapi jika terlalu sering dilakukan justru bisa berdampak buruk pada kesehatan mental. Mulai dari menurunkan rasa percaya diri, memicu kecemasan, hingga menghambat perkembangan diri.

Penelitian-penelitian psikologi menunjukkan bahwa keseimbangan adalah kunci. Maaf perlu diucapkan saat memang ada kesalahan, bukan sebagai respon otomatis untuk semua hal.

Dengan belajar mengurangi kebiasaan ini, kita bisa lebih sehat secara psikologis dan menjaga hubungan sosial tetap hangat tanpa harus mengorbankan harga diri.