Ketegangan di Selat Hormuz Memuncak: Akankah Harga BBM Dunia Meroket?

Iran Klaim Rudal Barunya Jauh Lebih Canggih
Sumber :
  • AP

Olret – Perkembangan terkini di Timur Tengah menyebabkan gangguan signifikan pada rantai pasokan energi global, memaksa negara-negara dan bisnis untuk secara proaktif menerapkan langkah-langkah untuk mengurangi risiko dan menstabilkan pasar.

Houthi Mengaku "Sudah Tekan Pelatuk", Siapa yang Jadi Sasarannya?

Menurut Reuters, saat pekan perdagangan baru dimulai, perhatian investor terfokus pada kawasan Teluk Persia setelah Presiden AS Donald Trump menuntut pemulihan penuh aktivitas maritim melalui Selat Hormuz dalam waktu 48 jam. Pernyataan ini muncul di tengah gangguan signifikan terhadap pengiriman melalui jalur strategis ini.

Menanggapi tuntutan Washington, Teheran memperingatkan bahwa mereka dapat mengambil tindakan balasan yang menargetkan infrastruktur energi dan sistem desalinasi di wilayah tersebut jika pembangkit listriknya terpengaruh.

Iran Kerahkan 1 Juta Pasukan untuk Lawan AS

Tony Sycamore, seorang analis di IG, mengatakan kepada Reuters bahwa pasar sekarang mengamati dengan cermat langkah selanjutnya dari para pemimpin yang terlibat.

Di pasar, kekhawatiran terbesar saat ini adalah kemampuan untuk mencapai kesepakatan antara pihak-pihak terkait. Peneliti Rory Johnston mengatakan kepada Bloomberg bahwa tenggat waktu 48 jam adalah waktu yang sangat singkat untuk mencapai kompromi, terutama ketika masing-masing pihak memprioritaskan keamanan.

Bedah 5 Syarat Iran: Mengapa Proposal AS Gagal Meredam Konflik?

Sementara itu, Axios melaporkan bahwa Washington juga mempertimbangkan beberapa opsi teknis, termasuk kemungkinan mengendalikan Kepulauan Kharg untuk meningkatkan tekanan dalam negosiasi. Informasi yang saling bertentangan menyebabkan sentimen pasar bergeser dari reaksi cepat ke sikap hati-hati, menunggu konfirmasi lebih lanjut.

Haris Khurshid, Direktur Investasi di Karobaar Capital LP, percaya bahwa pasar membutuhkan perkembangan konkret daripada hanya mengandalkan pernyataan politik.

Rantai Pasokan Beradaptasi

Salah satu perkembangan penting adalah semakin lebarnya kesenjangan antara harga berjangka dan harga minyak fisik. Bloomberg melaporkan bahwa biaya pembelian pengiriman minyak aktual meningkat pesat karena kilang-kilang di Asia mencari pasokan dari wilayah yang lebih jauh untuk mengimbangi gangguan dari Timur Tengah.

Pergeseran ini telah mengganggu arus perdagangan global. Negara-negara Asia kini meningkatkan impor minyak AS, dengan volume mencapai tingkat tertinggi dalam tiga tahun terakhir, untuk mengimbangi keterlambatan pengiriman dari wilayah Teluk Persia.

Perkiraan menunjukkan bahwa pembatasan jalur pelayaran melalui Selat Hormuz telah memengaruhi pengiriman ratusan juta barel minyak dalam beberapa minggu terakhir. Bersamaan dengan itu, permintaan telah bergeser ke sumber minyak regional seperti Oman atau Murban dari UEA, yang meningkat secara signifikan.

Untuk mengurangi tekanan pasokan, pemerintah AS dengan cepat menerapkan beberapa langkah dukungan. Departemen Keuangan AS telah mengizinkan penjualan minyak dan petrokimia yang saat ini disimpan di laut, dengan batas waktu hingga 19 April. Langkah ini diharapkan dapat memberikan pasokan jangka pendek ke pasar.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent juga menyatakan bahwa kemungkinan penggunaan instrumen cadangan strategis tambahan sedang dipertimbangkan jika diperlukan.

Sementara itu, Badan Energi Internasional (IEA) mengatakan pihaknya berkoordinasi dengan negara-negara anggota untuk memantau situasi secara cermat. Rencana pelepasan cadangan darurat telah disiapkan untuk memastikan keamanan energi global jika gangguan pasokan terus berlanjut. Menurut IEA, pemulihan penuh pasokan dari Timur Tengah mungkin membutuhkan waktu lebih lama.

Bisnis Logistik Menghadapi Tekanan Biaya

Fluktuasi di pasar minyak secara langsung berdampak pada biaya operasional bisnis transportasi dan logistik. Menurut Bloomberg, banyak perusahaan pelayaran telah mulai menyesuaikan biaya tambahan bahan bakar untuk mengimbangi kenaikan biaya.

Pada saat yang sama, pelanggan utama mengubah strategi pembelian mereka, membagi pesanan menjadi kuantitas yang lebih kecil daripada mengimpor volume besar sekaligus.

Di industri penerbangan, maskapai penerbangan Eropa juga harus menghitung ulang struktur harga tiket mereka karena biaya bahan bakar cenderung meningkat. Pavel Kveten, CEO Girteka Logistics, mengatakan bahwa fluktuasi harga bahan bakar hampir secara langsung memengaruhi struktur biaya operasional bisnis. Saat ini, bahan bakar menyumbang sekitar 30% dari total biaya operasional perusahaan.

Di tingkat ritel, perilaku konsumen juga mulai bergeser. Di Jerman, para pedagang minyak pemanas melaporkan bahwa pelanggan terutama hanya membeli saat dibutuhkan daripada menimbun. Di AS, harga bahan bakar ritel juga meningkat, memaksa pemerintah untuk mempertimbangkan langkah-langkah ekonomi yang tepat.

Namun, banyak ahli percaya bahwa pasar sedang dalam proses penyesuaian diri untuk menemukan keseimbangan baru. Perusahaan-perusahaan besar telah mengaktifkan rencana darurat seperti mengoptimalkan rute transportasi, mengurangi konsumsi bahan bakar, dan mencari kontrak pasokan jangka panjang untuk melindungi keuntungan.

Menurut data terbaru, harga minyak mentah Brent saat ini berfluktuasi sekitar $112-$113 per barel, sementara minyak mentah WTI diperdagangkan mendekati $100 per barel. Selisih harga antara kedua patokan ini terus melebar, mencerminkan penyesuaian dinamis dalam rantai pasokan energi global.

Para ahli merekomendasikan agar investor dan pelaku bisnis terus memantau perkembangan geopolitik secara cermat. Pembaruan tepat waktu dan penyesuaian yang fleksibel terhadap rencana bisnis akan membantu mengurangi risiko di pasar energi yang bergejolak.