Apa yang Bisa Kita Pelajari dari Kemenangan Arsenal 3-2 Atas Chelsea?
- vnexpress.net
Olret – Pada leg pertama semifinal Piala Liga 2025/26, Arsenal mengalahkan Chelsea 3-2 di Stamford Bridge, memberi mereka keuntungan signifikan dalam perebutan kualifikasi.
Derby London di Stamford Bridge bukan hanya pertarungan dramatis antara kedua klub London, tetapi juga menunjukkan karakter, kelas, dan kedalaman skuad Arsenal yang semakin berkembang.
Meskipun Chelsea berjuang hingga menit-menit terakhir, kemenangan 3-2 untuk tim Mikel Arteta adalah hasil yang pantas. Berikut beberapa poin penting dari kemenangan impresif Arsenal di Stamford Bridge.
Arsenal Tetap Menjadi "Raja Bola Mati"
Arsenal
- https://thethao247.vn
Ciri pertama dan paling menentukan dari Arsenal musim ini adalah kemampuan mereka untuk memanfaatkan bola mati. Chelsea tahu ini, dan Liam Rosenior tentu telah mengatakannya berkali-kali, tetapi mereka tetap kebobolan gol dengan cara yang paling sederhana dan terburuk.
Pada menit ke-7, Ben White membuka skor dengan sundulan sederhana setelah tendangan sudut dari Declan Rice.
Ini adalah hasil dari sistem yang direncanakan secara ilmiah dan dipersiapkan dengan cermat. Kini, para pemain Arsenal dapat mencetak gol dari bola mati bahkan dengan mata tertutup. Dengan 24 gol dari situasi bola mati musim ini, Arsenal telah mengubah setiap tendangan sudut menjadi tekanan psikologis yang luar biasa pada pertahanan lawan.
Tekanan Tinggi yang Luar Biasa
Arsenal vs Sunderland
- thethao247.vn
Sistem pressing yang tersinkronisasi membantu Arsenal mempertahankan dominasi dan menghukum kesalahan lawan. Bukan kebetulan bahwa Arteta mendesak Arsenal untuk mendatangkan Zubimendi.
Trio lini tengah pilihan Arteta, Zubimendi, Odegaard, dan Rice, mendominasi sepanjang pertandingan, secara efektif menetralkan lini tengah Chelsea, yang hampir "tidak terlihat" pada hari ketika Caicedo absen.
Ini meletakkan dasar bagi Arsenal untuk terus melakukan pressing, menciptakan tekanan yang sangat besar pada lawan mereka. Pada akhirnya, para pemain Chelsea-lah yang melakukan kesalahan karena putus asa. Gol Viktor Gyokeres pada menit ke-49, yang membuat skor menjadi 2-0, adalah contoh utamanya.
Memanfaatkan kesalahan penanganan bola oleh kiper Robert Sanchez setelah umpan silang Ben White, striker Swedia itu berada di tempat dan waktu yang tepat untuk mencetak gol dari jarak dekat.